Celtic Punk yang Tidak Pernah Pergi dari Jogja
Mengulas The Clove & The Tobacco

Image: https://www.instagram.com/p/DMniNH8SrG6/?img_index=1
Saya mengenal The Cloves and The Tobacco bukan dari rilisan baru atau linimasa media sosial, melainkan dari sebuah gigs “Punkbuburit” ruang yang waktu itu lebih terasa sebagai tempat berkumpul daripada ajang pamer nama. Saat itu saya bahkan belum tahu siapa mereka, hanya mengingat suara yang berbeda dari band-band lain: riuh, hangat, dan anehnya menenangkan. Bertahun setelahnya, saya sempat menuliskan kenajilan saya sendiri di blog pribadi tentang sebuah lagu berjudul Sunyi Tanah Peristirahatan lagu yang menurut saya bekerja seperti mantra, sederhana namun menetap lama. Dari panggung kecil hingga obrolan santai di rumah Mas Adit (Tongseng), vokalisnya, The Cloves and The Tobacco hadir di hidup saya bukan sebagai idola, melainkan sebagai rangkaian perjumpaan yang terasa wajar.
Dari perjumpaan-perjumpaan kecil itulah saya mulai memahami bahwa The Cloves and The Tobacco tidak pernah dibentuk untuk terlihat besar. Mereka tumbuh pelan, tanpa kebutuhan untuk menjelaskan diri atau mencari pengakuan dari luar. Jogja memberi ruang bagi band seperti ini untuk hidup apa adanya.
Pendengar The Cloves and The Tobacco lahir secara organik. Tidak datang dari satu momen viral, tidak pula dari kampanye yang dirancang rapi. Mereka hadir karena menonton, karena diajak teman, karena kebetulan mendengar lagu di waktu yang tepat. Hubungan antara band dan pendengarnya terasa seperti lingkaran kecil yang terus melebar, bukan lonjakan sesaat. Ada rasa memiliki yang tumbuh pelan, tanpa disadari.
Dalam proses itu, The Cloves and The Tobacco juga menjadi pintu masuk bagi banyak pendengar muda untuk mengenal Celtic punk, genre yang sebelumnya terasa jauh dan asing. Bukan lewat pengenalan teoritis atau klaim genre, melainkan lewat lagu-lagu yang terasa hidup dan mudah didekati. Celtic punk tidak hadir sebagai label, tetapi sebagai pengalaman: musik yang riuh, komunal, dan hangat, namun tetap menyisakan ruang refleksi. Bagi generasi baru, mereka bukan band “Celtic punk”, melainkan band yang pertama kali membuat genre itu terasa dekat.
Mengingat kembali semua itu, rasanya masuk akal jika The Cloves and The Tobacco tidak pernah benar-benar pergi dari Jogja. Mereka hadir lewat momen-momen kecil: gigs yang tidak direncanakan untuk dikenang, lagu yang terasa ajaib tanpa harus dijelaskan, dan obrolan biasa yang tidak mengubah apa pun selain cara kita memandang musik. Mereka tidak menjanjikan pelarian, hanya menemani perjalanan. Dan mungkin, di kota seperti Jogja, bertahan dengan cara seperti itu adalah bentuk kejujuran paling keras yang bisa dimiliki sebuah band.


